Seminar Peluang dan Problema Berusaha Sejak Usia Muda : Kemauan dan Usaha Kunci Sukses - Potensi
Ditulis Oleh Mods, Saturday, 18 August 2007
PUSAT Inkubator Bisnis Ikopin (Institut Koperasi Indonesia) bersama dengan ParamediaKomunikatama, mengadakan seminar yang bertema “Peluang dan Problema Berbisnis Sejak Usia Muda” di Savoy Bidakara Homann pada 4 Agustus 2004.
Seminar ini, menghadirkan Anne Ahira (entrepreneur muda), Tika Bisono (Psikolog), Muhammad Najib (Ketua Program Studi Manajemen STEI Tazkia) , Perry Tristianto (pengusaha), dan Aditya M. Salya (Megacatra) sebagai pembicara.
Membuka usaha sendiri sebagai golongan kelas dua apabila dibandingkan dengan bekerja sebagai pegawai negeri atau kantoran merupakan anggapan dan harapan orang tua yang harus segera dirubah. Anggapan tersebut seringkali menempatkan si anak pada pilihan sulit antara mengikuti bakat dan kemampuan atau kehendak orang tua.
Seminar yang mempertemukan kedua generasi ini, diharapkan dapat memberi gambaran dan masukan bagi orang tua untuk lebih modernis dan fleksibel.
Seperti harapan Ny. Danny Setiawan (ketua penggerak PKK) dalam pembukaannya, bahwa seminar ini bisa dijadikan sebagai ajang membangun entrepreneurship yang akan membuka lapangan pekerjaan dan terciptanya dukungan danbimbingan orang tua bagi anak untuk menghadapi dunia usaha yang prospektif.
Acara yang menampilkan Anne Ahira sebagai model entrepreneur muda yang berhasil, sisi perjuangan dan kesehariannya dibahas pada sesi pertama. Ahira menjelaskan awal mula ia memasuki dunia internet marketing, dari sejak ia baru mengenal email pada akhir tahun 2001 sampai saat ini, ketika ia mendapatkan penghasilan hamper melewati angka $ 10.000 per bulan.
Ahira yang mendalami dan mengembangkan Internet marketing, mempunyai dua jenis usaha yang berdasarkan pada ilmu pemasaran (marketing). Kedua Jenis itu, adalah affiliate marketing (sistem jual putus, keuntungan ada jika penjualan tetap berjalan) dan network marketing (semacam multi level marketing). Dari jenis terakhir lah Ahira mengaku mendapat uang dalam jumlah besar.
Ia telah membuat suatu sistem pembelajaran marketing lewat dunia maya ini, dengan nama elite syrtem. Dalam situs itu, diajarkan strategi dan konsep pemasaran. Program sebelumnya yang ia keluarkan, retired quickly, mendapat peringkat pertama di program network marketing.
Kesehariannya yang lain dari anak lain seusianya, seringkal mendapatkan sorotan dari orang lain. Hal tersebut, menjadi bahasan Tika Bisono dalam membahas fenomena anak yang diberkahi kelebihan (gifted child). Tika menuturkan hal tersebut menjadi wajar, karna seringkali seorang gifted child ingin lebih membuktikan kemampuannya dalam berbagai cara.
Beberapa kebiasaan unik seorang Anne Ahira di saat ia kecil menjadi contoh konkrit. Tapi kemudian, kemauan dan cita-cita menjadikannya seorang yang berhasil. Karena Tika mengatakan, kemauan untuk berbuat sesuatu bisa jadi patokan yang membedakan keberhasilan sesorang.
Ahira memperkuat hal tersebut. Ia mengaku bahwa dalam usahanya saat ini, kemauan untuk belajar dan berbuat (praktik) memegang porsi yang lebih besar daripada kejeniusannya.
Muhammad Najib, sebagai seoran akademisi, setuju dengan persepsi untuk merubah patokan kesuksesan seseorang. Kesuksesan tidak selalu diukur dari bakat atau kemauan. Kesuksesan ditentukan oleh kesiapannya dalam menghadapi resiko dan tantangan.
Ia mengatakan, munkin banyak orang yang sukses tidak menyelesaikan pendidikan formal. Tapi kemudian ia menambahkan, sejarah hanya mencatat orang yang berhasil. Artinya, lebih banyak orang yang tidak berpendidikan gagal tanpa tercatat dalam sejarah.
Dalam akhir pembicaraan, ketiga pembicara setuju pentingnya pendidikan dan institusinya dalam menyokong keberhasilan seseorang. Karena institusi pendidikan harus lebih praktis dan applicable (ilmu lebih dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari).
Potensi edisi 9- 24 Agustus 2004
























