USUL ABCD
Ditulis Oleh ifrajoyku, Wednesday, 19 March 2008
USUL ABCD
(Oleh Endang W.)
AA, AB, ABC…..(Anne Ahira, Asian Brain, Asian Brain Community) ! Kita pasti sepakat sebutan itu sangat berpengaruh, khususnya bagi ABers. Bagaimana kalau kita buat suatu badan atau bagian dari AB dan ABC dengan menambah satu huruf lagi, “D”? Ya….ABCD!!! ABers Business Club D….(Departement, Division, Development atau apalah…..). Yang jelas bagian yang memprakarsai, mengelola atau mendanai, bisnis riil dari AA, ABers, dan ABC.
Meskipun agak telat mikir (bukan bodoh, mana ada ABers bodoh?!?), gagasan itu muncul karena saya “tersinggung” oleh tulisan Raihanah /Aulia Hazmy yang berjudul “Internet Marketing vs UKM”.
Dengan “ketersinggungan” itu saya jadi ingat kata Presiden kita” Bersama Kita Bisa!” dan kata seorang mantan Presiden negeri adidaya “Jangan bertanya apa yang Negara berikan kepadamu, tapi bertanyalah apa yang dapat kamu berikan kepada Negara”. (Sok patriotis ya…., murid AA memang harus patriotis kaya Bu Gurunya?!).
So…?!? Ya kita bisa “do something”, minimal untuk masyarakat sekitar dengan menyumbang apa saja, entah itu ide, pikiran atau lahan pekerjaan melalui bisnis yang dikelola dan dipinjami modal oleh “ABCD”, kemudian dipasarkan oleh kita, AA, AB dan ABC.
Terus terang, saya tidak bisa membayangkan jika saya mendapatkan penghasilan ratusan dollar perhari dari “internet marketing”, soalnya saya blas belum fokus apalagi praktek pelajaran dari Bu Guru AA, tapi dibenak saya malah banyak ide untuk membuat bisnis riil agar bisa membantu banyak orang jika saya “berlimpah uang” dari internet marketing. Ya mimpi, gitu lah……! Dengan uang sebanyak itu tentunya kita tidak hanya bisa “do something”, tapi “there are so manythings to do” to help others people. Saya juga sering terinspirasi beberapa bait lagu lama yang berjudul And I Love U :/ I new a brave old lady/she’s gone so far away/to help the helpless people…..And I love you, and I love you/don’t be afraid, I’ll help you too… And I love you, and I love you…”There are so manythings to do”.
Di negeri kita ini kan sudah terlalu banyak “The helpless, the hopeless, the jobless people….”(Ayo sebut less-less yang lain, masih banyak! kulakan “less-less” di Indonesia juga bisa). Balita kurang gizi, busung lapar, bahkan mati kelaparan di negeri sesubur dan semakmur negeri jamrud katulistiwa ini, yang Koes Plus menyebutnya tanah kita tanah surga ….Ironis! Tak terhitung warga yang bunuh diri karena tak sanggup menanggung beban ekonomi, atau saudara kita yang menjemput luka, nista bahkan ajal di negeri orang….demi sesuap nasi, bukan segenggam berlian atau segepok uang! Kadang saya juga nggak kuat menyaksikan berita di TV yang mungkin 90% isinya menyedihkan, memprihatinkan. Saya juga selalu trenyuh dan tersayat setiap mendengar atau melihat disekitar saya, suara-suara parau, wajah-wajah letih tanpa harapan para penjaja keliling, tukang becak, tukang ojek, sopir bajaj renta…mengusik pikiran saya, apa yang mereka dapat pada hari itu meskipun sekeras apapun bekerja? Mungkin dagangan tak laku, pembeli sepi, penumpang sepi, untung tak pasti, semua serba mahal dan sulit….anak istri kelaparan, sakit tak terobati, anak tak bisa sekolah!
Sebagai bangsa yang besar (sadar nggak, sih?), kita pantas tersinggung disebut “Indon-e-sial”, bangsa koeli, babu, oleh masyarakat negeri antah berantah yang para patriot kita menyebutnya “Malingsia” . Tersinggung boleh, tapi jangan dulu “mencak-mencak”. Jika kita telaah dan renungi, memang ada benarnya bangsa kita memang sial oleh ulah bangsa kita sendiri, bencana dan musibah akibat kerakusan segelintir orang yang merusak alam karunia Tuhan untuk memperkaya diri, bangsa pengekspor babu dan kuli (maaf,). Yahhh….meskipun sama-sama kurang enak disebut, masih mending babu dan kuli, bekerja halal, daripada maling……gitu aja kok repot !
Nah…., untuk meminimalkan sial, babu, kuli dan” less-less” tadi, marilah kembali ke….. ABCD! Khususnya ABers dan AB Community, yang terdiri dari personal berbagai macam profesi dan pastinya pinter-pinter (pakai Brain gitu loooooh…., dari gaptek kalau nggak pakai brain mana bisa” melek-tek!”). Pinter, kaya, dermawan, patriotik…..seperti Bu Guru AA, dengan niat tulus, Insya Allah kita bisa “berbuat banyak” untuk bangsa kita.
Caranya?…. Salah satunya melalui ABCD (ABers Business Club Division/ Departemen/ Development atau apa), intinya badan atau bagian AB-IMC atau ABers yang dikelola oleh tenaga professional dibidangnya yang meminjami modal bisnis riil/konvensional yang dikelola anggota atau kelompok ABer dan ABC yang diharapkan bisa menyerap tenaga kerja, dimana produknya nanti juga dipasarkan oleh ABers. Pimpinan pucuk tetap AA, sedangkan ABCD adalah bagian yang mengelola investasi dari AA, ABers & ABC yang meminjami “Modal Usaha” berdasarkan proposal yang diajukan dari anggota/kelompok ABers atau ABC yang telah melalui pengkajian, survey, pertimbangan, dll serta keputusan setuju atau tidak setuju dari “ABCD”. Dengan uang yang berlimpah itu, tak ada salahnya, dan yang pasti dengan perhitungan, pengjkajian dan pengelolaan yang baik, tak ada ruginya uang dikembangkan dengan usaha riil. Kalau Bu Guru AA selalu menekankan fokus dan praktek, disini perlu digalakkkan invest, invest, invest!
Dasar usulan saya tersebut diatas adalah karena ‘mentok’nya segala mimpi saya untuk memberdayakan masyarakat di sekeliling saya karena keterbatasan dana. Mereka bukan pemalas,tetapi mereka tidak tahu harus berbuat apa, tidak punya ketrampilan, tidak punya kesempatan, apalagi dana. Mereka bisa dilatih dan diberdayakan. Saya nggak mau cuma lempar bola ( gagasan ini), tapi saya juga masih punya banyak bola yang akan saya giring atau saya bagi untuk membantu masyarakat, sekuat dan semampu saya jika kelak terbentuk ”ABCD”.
ABers & ABC! Banyak lho hasil kekayaan alam negeri kita yang bisa kita kelola kemudian kita pasarkan secara internasional tetapi belum tersentuh atau terpikirkan oleh kita. Secara sadar atau tidak, kita sering menyia-nyiakan karunia Tuhan yang melimpah di negeri kita, dimana sesungguhnya Tuhan menciptakan segala sesuatu tidak ada yang sia-sia. Bangsa kita banyak mengimpor kebutuhan yang justru seharusnya kita bisa mengekspornya.
Pernah saya membaca tentang hasil penelitian buah kesemek, itu lho orang Betawi menyebutnya ‘buah genit” yang habis-habisan pakai bedak tapi nggak laku juga alias ga ada yang minat, padahal kandungan vitamin C-nya tinggi, tapi di sia-siakan. Thailand yang terkenal dengan Agrobisnis dan Agrowisatanya, dimana restoran setempat mengenalkan berbagai macam jus buah hingga jus kedondong kepada wisatawan asing yang mungkin di negerinya tidak ada buah tersebut dan menyajikan semacam rempeyek dari kelopak bunga-bunga yang bisa dimakan. Saya juga pernah membaca tentang pati garut (garut sejenis ganyong yang bentuknya mirip lengkuas), yang tekstur dan kandungannya gizinya baik untuk dikonsumsi pasien yang sedang atau baru sembuh dari sakit. Yang saya tahu bubur pati garut memang enak, di kampung saya, garut bisa tumbuh di tempat yang relatif kering. Jika setiap rumah sakit menyajikan bubur garut untuk pasiennya, tentu perlu produksi tepung/pati garut. besar-besaran, kalau perlu kita ekspor.
Jika selama ini kita disibukkan dengan berbagai rutinitas pekerjaan, berjam-jam di depan komputer, sekali-sekali turunlah ke laut, naiklah ke gunung, kelilingi negerimu…., banyak sekali yang bisa kita lakukan untuk menyejahterakan warga. Saya sudah melakukannya, turun ke laut, naik gunung dan keliling negeri, menyaksikan apa yang ada, tapi saya tak bisa berbuat banyak karena …ya itu tadi, kesandung, kejedot dan kebentur oleh “dana” untuk berbuat sesuatu, apalagi banyak hal!
Saya sering mengamati, betapa kita menyia-nyiakan apa yang seharusnya bisa kita olah. Memerlukan beberapa halaman untuk menuliskan pengamatan saya, namun beberapa bisa saya tuangkan disini. Dalam perjalanan di berbagai tempat dan wilayah di Indonesia, saya masih melihat banyak lahan gundul tak terurus, padahal tempat tersebut subur. Saya bayangkan ada peternakan sapi potong atau sapi perah dengan pakan yang melimpah di sekitarnya dengan tenaga kerja yang juga melimpah (kita masih banyak mengimpor daging dan susu), peternakan ikan air tawar, perkebunan bunga-bunga yang bisa diekspor, perkebunan buah dengan pabrik pengolah buah menjadi jus yang bisa diekspor, perkebunan sayur, perkebunan lada, vanili, kakao, kedele, mede, tanaman obat, hingga pohon bakal kayu bangunan sesuai spesifikasi tanah dan iklim setempat yang cocok untuk budidaya apa. Apa sih yang tidak tumbuh di negeri kita ? Kita juga mengenal agrobisnis dan agrowisata dan bisa menjadi bagian didalamnya sebagai pengelola.
Di lautpun tak kalah banyak komoditi yang bisa dibudidayakan dan lahan yang bisa dimanfaatkan. Selain ikan, terdapat rumput laut, teripang yang dikenal sebagai bahan obat selain sebagai makanan, dan berbagai mineral yang terkandung didalamnya. Saya lihat di TV yang menayangkan tentang melimpahnya berbagai jenis ikan kualitas ekspor di perairan papua, namun tidak ada infrastruktur, baik untuk mengolah hasil laut maupun sarana transportasi, sehingga warga setempat mengambil seperlunya hanya untuk dikonsumsi. Sayang sekali, dan keadaan seperti ini masih banyak terdapat di perairan lainnya di wilayah Indonesia. Ekowisata maupun wisata bahari dan olah raga perairan seperti diving, surfing, sungai deras dengan arung jeramnya dan sebagainya, juga memerlukan pengelolaan yang membutuhkan banyak tenaga kerja. Masih banyak pulau-pulau kecil nan eksotis dan potensial dibiarkan terlantar yang bisa dikelola menjadi tempat tujuan wisata, berlibur keluarga atau tempat persembunyian pasangan yang berbulan madu. Kita rayu turis asing untuk datang.
Jika setiap jengkal tanah, laut, danau, rawa, sungai di Indonesia dimanfaatkan, berapa ratus atau ribu tenaga kerja yang dibutuhkan dan berapa ribu anggota keluarga bisa disejahterakan, berapa warga yang bisa diberdayakan dan berapa warga yang urung jadi tenaga kasar dan dinistakan di negeri orang? Saya yakin diantara ABers dan ABC tidak hanya sebagai internet marketer tetapi juga investor dalam berbagai bisnis atau memiliki usaha riil lainnya. Saya juga berharap banyak ABers dan ABC berperan dibidang perkebunan, peternakan, pabrik pengolahan hasil bumi, agrobisnis, dll, serta ikut meramaikan dan menggairahkan pariwisata, ekowisata, agrowisata dan wisata bahari, khusnya di daerah-daerah luar Jawa sebagai pengelola hotel, pondok, restoran, travel dan kapal pesiarnya, lengkap dengan tenaga kerja warga sekitarnya, mengenalkan kebudayaan, produk dan makanan khas daerahnya, dll . Dengan kecanggihan teknologi dan sarana komunikasi serta adanya dana, kita bisa mengendalikan usaha meskipun di pelosok negeri dari manapun kita berada.
Melalui tulisan ini pula, saya menyambut dan perlu menanggapi dua tulisan dari Mas Mimuk yang ditulis tanggal 11 September dengan judul “ Membuat Cita-cita Besar Ahira menjadi Kenyataan” dan tulisan Raihanah/Aulia Hazmy tanggal 31 Agustus 2007 yang berjudul “Internet Marketing vs UKM”. Dalam tulisan tersebut, Mas Mimuk bertanya,” Apakah semua itu bisa diwujudkan? Bukankan ini betentangan dengan kebisaaan seorang internet marketer yang cenderung berbisnis secara individual di depan layar komputer? Bersediakan para ABers melakukan offline, bersosialisasi dengan mereka, pejabat institusi konvensional yang berpotensi mendukung obsesi Ahira?”, dan pernyataan Raihanah/Aulia Hazmi, “ Online internet marketing dapat melahirkan jurang pemisah yang semakin lebar antara si kaya dan si miskin”. Menurut saya, semua kembali kepada masing-masing individu, mungkin ada individu yang lebih suka online, mengurung diri dan asyik sendiri bermain uang hasil jerih payahnya atau individu yang online iya, offline iya, bersosialisasi, membuka hati dan berbagi, nyatanya ada Bu Guru AA yang tetap membumi dan suka berbagi, ada orang yang berpikiran seperti Mas Mimuk dan Raihanah/Aulia Hazmy dan yang lainnya serta saya yang mendukung Anda. Saya juga yakin banyak ABers dan ABC yang mendukung Anda dan cita cita Ahira.
Jadi,…….Para ABers dan ABC…mari .kita realisasikan” our big ideas with our great actions! Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu di sekitar kita. Semangatlah berbagi, meskipun secuil ilmu, sepenggal pengalaman, selintas ide, atau lahan pekerjaan bagi yang membutuhkannya, apapun selama positif akan bermanfaat bagi kita bersama. Berbagi dan melakukan sesuatu yang baik bagi orang lain dengan iklas, selain menyenangkan hati orang lain, juga melegakan dan memberikan kepuasan batin kita sendiri.
Salam AA, AB(ers), ABC…….., semoga menyusul ABCD!

























